Sunday, March 22, 2009

HUMANS & COSMIC WONDER

HUMANS & COSMIC WONDER

“There once existed an idea that articulated the human capacity for a particular type of transcendental experience. An experience in which nature, at its most fierce, most violent and most monumental would allow for a brief glimpse of the divine. It was an idea offered the possibility of the most utterly private experience. It was about enlightenment, about the soul and about beauty in its most painful of definitions.”—Arvo Pärt, composer.1
Jikalau kita sadari dengan seksama, bumi kita merupakan sebagian kecil yang keberadaannya nyaris tak tampak diantara debu-debu dan gas yang berterbangan di jagat raya ini yang rasanya tidak akan ada habisnya jika dieksplor. Esensi bagaimana kekuatan dari alam semesta dari mana kita berasal mengekspresikan sebuah grand idea tentang cosmos yang sangat epik dan heroik, namun diwaktu yang sama juga menampilkan sebuah ide yang destruktif. Tak jarang dari esensi yang dihadirkan alam tersebut memberikan nilai-nilai tersendiri bahkan mengajarkan manusia tentang berbagai teori kehidupan. Saya sangat tertarik dengan segala macam gagasan tentang hubungan antara manusia dengan alamnya dan segala macam bentuk interaksi yang terjadi didalamnya tersebut.
Saya juga sangat tertarik dengan segala suatu kreasi manusia yang diciptakan langsung dari tangannya. Saya teringat akan sebuah kalimat bijak yang kurang lebih seperti demikian, “Manusia merupakan makhluk yang sempurna karena dia tidak sempurna, malaikat tidak sempurna karena dia terlalu sempurna.” Ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia seringkali menghasilkan suatu sensasi tersendiri. Gagasan akan sensasi manusiawi tersebut sangat inspiratif.
Manusia memang makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dia diutus kemuka bumi sebagai khalifah. Sudah seharusnya dia berjalan selaras dengan alamnya. Bisa dibilang disana terdapat ikatan energi. Energi manusia & alam, baik itu positif maupun negatif, internal serta eksternal, energi yang menandai darimana kita berasal serta hendak kemana kita akan mengarah. Bentuk energi tersebut merupakan suatu yang transendental, meskipun tidak terlihat, energi tersebut sesungguhnya nyata dan hadir dalam lingkungan keseharian kita.

No comments:

Post a Comment

Followers